Minggu, 18 Agustus 2013

Diaryku part 1


By : Ressa Harry Saputra

Ayahku pernah berkata, ‘terkadang manusia takut untuk memulai sesuatu yang baru karena mereka berpikir akan hilangnya zona nyaman pada dirinya. Banyak orang bisa melaluinya dengan baik, namun ada yang mempunyai kesan buruk. Kau tidak boleh menghakimi seseorang yang berbeda denganmu, karena sebenarnya mereka mempunyai opininya masing masing dalam berpikir.’
Kami berjalan di pekarangan rumah sambil melihat mentari terbenam. ‘Ayah aku berbeda dengan teman temanku. Teman – temanku menganggapku aneh karena sikapku yang tak wajar pada mereka. Aku tidak tahu harus berbuat apa ketika aku mendengar bisikan bisikan miring terhadapku. Entah mengapa aku bisa mendengar obrolan mereka meski aku sudah mengunci gudang sekolah. Kemudian aku mendengar kebisingan yang luar biasa ketika beberapa orang selain teman – temanku ikut membicarakanku. Rasanya penat dalam kepalaku mendengar omongan – omongan mereka.’
‘Itulah sifat manusia, yang belum bisa menerimamu seutuhnya. Kamu memang berbeda dari manusia kebanyakan, bahkan kamu bukanlah dari planet ini. Namun satuhal yang pasti, kamu adalah anakku  Clark. Mungkin di luar planet ini, kau mempunyai ayah yang sebenarnya. Namun, di dunia ini, aku adalah ayahmu yang akan membimbingmu melawati rintangan dunia ini. Percaya pada ayah, meskipun kau merasa kamu berbeda atau sendiri, kami sebagai orang tuamu akan terus percaya padamu apapun yang terjadi.
Itulah sepenggal kenangan yang kudapat dari ayahku sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku sadar aku bukan makhluk dunia ini, aku mempunyai kelebihan yang manusia tidak punya. Namun ayah selalu mengajarkan agar tidak boleh menunjukan kelebihanku agar tidak menjadi sombong. Seringkali aku mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan terhadap beberapa manusia. Aku hanya bisa menahan diri atas apa yang mereka lakukan padaku. Ayah juga mengajarkan padaku ‘semua itu ada porsinya masing masing, ketika kau membalas apa yang telah kamu alami terhadap mereka berarti kamu kalah dengan nafsumu yang akan membimbingmu pada kejahatan.’ Pernah sesekali aku membalas perbuatan mereka. Namun akhirnya aku yang di marahi ayah karena tidak bisa menahan kemarahanku sendiri. Dia marah dan berkata ‘BIARKAN MEREKA DIBALAS DENGAN CARA LAIN!!!  asal tidak dengan kekuatanmu CLARK KENT !!!’ mulanya aku bingung, dengan apa yang ayahku katakan. Ini tidak adil, pikirku saat itu. Namun setelah aku berpikir secara dewasa, ada beban yang kumiliki melalui kekuatan yang aku punya. Kekuatan itu ada untuk membantu orang bukan untuk mementingkan pikiran – pikiran pribadi saja.
***
Saat aku pindah ke Metropolis dari Smallville, aku merasakan perbedaan yang sangat signifikan dari  kedua kota ini. Smallvile adalah kota kecil yang kebanyakan kotanya dipenuhi oleh sawah. Aku tumbuh besar disana sampai aku lulus Senior High School. Biasanya setelah pulang sekolah aku selalu membantu ayah mengurusi pertanian, peternakan, dan perkebunan miliknya. Kami mempunyai ladang yang cukup luas untuk mengurusinya satu persatu. Terkadang apabila tidak ada orang yang melihat, aku memakai tenagaku yang kuat dan cepat untuk membantu meringankan pekerjaan ayah. Namun ketika ayah tahu, aku langsung dimarahinya. Penuh kenangan di Smallville, hingga akhirnya aku diterima di daily planet karena menyumbangkan beberapa artikle yang berbau kemanusiaan pada zaman sekarang. Setelah 5 tahun lulus dari Smallville Senior high School, aku langsung pindah ke metropolis tempat dimana orang lalu lalang untuk bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya.
Kesan pertama ketika pindah ke Metropolis adalah tempat ini tidak pernah haus akan keramaian akan orang – orang. Aku menyewa apartement di daerah Millway street yang jaraknya cukup untuk naik satu kali subway dalam waktu 13 menit. Mulanya aku sangat bingung ketika kereta yang harusnya ku naiki selalu penuh.  Tiga kali aku terlambat masuk kantor, dan tak heran aku selalu di marahi oleh bosku, Perry White. Pak White selalu tidak menerima alas an apa saja ketika kita berbuat yang tidak ia sukai. Namun kata temanku, Jimmy Olsen, Pak White hanya mencari bahan untuk ia marahi. Memang sikapnya dari dulu selalu perfeksionis, tidak boleh ada celah dari apa yang dialakukan. Termasuk pula dalam mengolah berita. Temanku Jimmy Olsen baru masuk tiga bulan setelah aku masuk, meskipun begitu ia cukup bagus dalam memainkan kameranya. Banyak foto fotonya masuk dalam cover editorial Koran. Berbagai macam kasus criminal pernah ia lewati seperti pembunuhan berantai, perampokan bank, serta terorisme dan lain – lain. Meskipun begitu,ia hanyalah seorang rekanan dari wartawan muda namun senior di Daily Planet yang bernama Lois Lane.
Lois Lane adalah wartawan yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Secara fisik, ia adalah wanita yang membuatku terpikat pada saat masuk ke daily planet. Parasnya yang cantik, rambut hitam dan kaki yang jenjang seperti model, pasti akan terpikat pada pesonanya. Banyak dari teman teman wartawan yang menyukainya, itu juga termasuk diriku. Namun dibalik kecantikan yang ia pancarkan, ia juga orang yang kritis dalam mengolah artiklenya. Banyak artiklenya yang masuk cover daily planet sebagai topic utama. Disamping itu, Lois juga berani dalam meliput berbagai macam berita bersama partnernya Jimmy Olesen. Menurut Jimmy, Lois selalu memaksanya untuk melakukan hal hal yang gila untuk mencari berita. Dia juga tidak takut dengan pengusaha ternama Lex Luthor yang pamornya sedang naik dimata masyarakat. Lois begitu idealis mengungkap fakta fakta yang terselubung terhadap criminal criminal dibalik layar. Tak jarang ia menapat terror di beberapa orang yang merasa tersinggung terhadap berita yang ia berikan. Namun, bukan Lois Lane jika ia tidak sanggup membela dirinya sendiri. Ia mengikuti kelas beladiri dari mulai jiujitsu, karate, muang tai, boxing, sampai taekwondo. Ayahnya sendiri tentara yang berpangkat komandan. Dari kecil memang Lois dilatih untuk mempertahankan diri dari kondisi apapun. Meskipun begitu untuk masalah relationship, Lois memang agak susah untuk berkomitmen. Dia beberapa kali putus dengan orang yang tidak sanggup menjalani kehidupan seperti Lois. Ia juga termasuk pribadi yang keras dalam menunjukkan apa yang ia mau. Sehingga terkadang untuk berkomitmen si pasangan harus menuruti yang ia mau secara sepihak tanpa kompromi. 
Perkenalanku dengan Lois cukup singkat. Bahkan hanya sekedar basa basi kalau dipikir pikir. Jimmy yang mengenalkanku pada dirinya. Namun ia hanya melihat mataku dengan tajam dan berkata ‘Salam kenal Clark Kent, Selamat datang di daily Planet yang kacau ini.’ Kamudian ia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
‘Jangan dianggap serius clark, Sifatnya memang begitu kalau ada orang baru.’ Jimmy mencoba mengiburku.
 Bersambung............................................................................................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar