Sajak untuk Ayah
Di tengah kesendiriannya tak kutemukan sebuah kesepian. Sekali pun berhari hanya berteman dengan aku, televisi, dan bebunyian: tokek, tikus, jangkrik, dan kawan-kawan.
Selalu keikhlasan dan lagi-lagi keikhlasan yang ditampakkan. Sejak aku bangun sampai aku kembali terlelap dan bangun kembali di keesokannya.
Hanya senyum, sapa, tanya, canda, dan doa. Hangat. Begitu yang kutemui tiap waktu berjumpa wajahnya.
Tak dibencinya aku, padahal sudah sebesar ini aku masih hanya sibuk pada diriku sendiri. Bahkan seringkali lupa untuk sekadar bertanya: “Sudah makan, Yah?”
Apalagi keluhan. Jangan tanya. Tak kumengerti mengapa ia selalu lebih tegar dari anak-anaknya yang masih muda.
Sampai sebesar ini bahkan ia yang mengingatkanku untuk tidak lupa makan, sholat, atau bahkan sekadar mengingatkan untuk tidak lupa minum setelah sarapan di tiap paginya.
Sementara aku terlalu dingin, bahkan sekali pun sudah bertemu wajan dan api untuk melelehkan, aku masih saja suka ketus. Dan tak jarang kata-kataku keluar membuat telinga ingin meletus.
Ayah, jika bahkan ada air mata menetes dari kedua bola matamu. Itu pasti karena anakmu, aku. Aku yang terlalu dingin, ketus, mungkin bahkan membuat telinga ingin meletus. Aku, Yah, anakmu, yang membuat peluh keringat di dahimu itu tak pernah berhenti menetes karena begitu banyak pintaku kepadamu.
Sungguh, anakmu ini belum dewasa, seperti selalu kau anggap, aku masihlah gadis kecilmu.
Namun, percayalah, di tiap rinai hujan itu, selalu kuselipkan doa. Sekali pun hujan tak selalu hadir setiap hari, tapi selalu kupinta agar Tuhan menyayangimu di dunia ini dan di akhirat nanti.
walaupun ini copy paste tapi ini ngena banget loh...
semoga kalian kalian pada suka...
from: ayu :* :*
Loveeee it!! :):)
BalasHapus