By : Ressa Harry Saputra
Ayahku pernah
berkata, ‘terkadang manusia takut untuk memulai sesuatu yang baru karena mereka
berpikir akan hilangnya zona nyaman pada dirinya. Banyak orang bisa melaluinya
dengan baik, namun ada yang mempunyai kesan buruk. Kau tidak boleh menghakimi
seseorang yang berbeda denganmu, karena sebenarnya mereka mempunyai opininya
masing masing dalam berpikir.’
Kami berjalan
di pekarangan rumah sambil melihat mentari terbenam. ‘Ayah aku berbeda dengan
teman temanku. Teman – temanku menganggapku aneh karena sikapku yang tak wajar
pada mereka. Aku tidak tahu harus berbuat apa ketika aku mendengar bisikan
bisikan miring terhadapku. Entah mengapa aku bisa mendengar obrolan mereka
meski aku sudah mengunci gudang sekolah. Kemudian aku mendengar kebisingan yang
luar biasa ketika beberapa orang selain teman – temanku ikut membicarakanku.
Rasanya penat dalam kepalaku mendengar omongan – omongan mereka.’
‘Itulah sifat
manusia, yang belum bisa menerimamu seutuhnya. Kamu memang berbeda dari manusia
kebanyakan, bahkan kamu bukanlah dari planet ini. Namun satuhal yang pasti,
kamu adalah anakku Clark. Mungkin di
luar planet ini, kau mempunyai ayah yang sebenarnya. Namun, di dunia ini, aku
adalah ayahmu yang akan membimbingmu melawati rintangan dunia ini. Percaya pada
ayah, meskipun kau merasa kamu berbeda atau sendiri, kami sebagai orang tuamu
akan terus percaya padamu apapun yang terjadi.
Itulah sepenggal
kenangan yang kudapat dari ayahku sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku sadar aku bukan makhluk dunia ini, aku mempunyai kelebihan yang manusia
tidak punya. Namun ayah selalu mengajarkan agar tidak boleh menunjukan kelebihanku
agar tidak menjadi sombong. Seringkali aku mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan terhadap beberapa manusia. Aku hanya bisa menahan diri atas apa
yang mereka lakukan padaku. Ayah juga mengajarkan padaku ‘semua itu ada
porsinya masing masing, ketika kau membalas apa yang telah kamu alami terhadap
mereka berarti kamu kalah dengan nafsumu yang akan membimbingmu pada kejahatan.’
Pernah sesekali aku membalas perbuatan mereka. Namun akhirnya aku yang di
marahi ayah karena tidak bisa menahan kemarahanku sendiri. Dia marah dan berkata
‘BIARKAN MEREKA DIBALAS DENGAN CARA LAIN!!! asal tidak dengan kekuatanmu CLARK KENT !!!’
mulanya aku bingung, dengan apa yang ayahku katakan. Ini tidak adil, pikirku
saat itu. Namun setelah aku berpikir secara dewasa, ada beban yang kumiliki
melalui kekuatan yang aku punya. Kekuatan itu ada untuk membantu orang bukan
untuk mementingkan pikiran – pikiran pribadi saja.
***
Saat aku
pindah ke Metropolis dari Smallville, aku merasakan perbedaan yang sangat
signifikan dari kedua kota ini.
Smallvile adalah kota kecil yang kebanyakan kotanya dipenuhi oleh sawah. Aku tumbuh
besar disana sampai aku lulus Senior High School. Biasanya setelah pulang
sekolah aku selalu membantu ayah mengurusi pertanian, peternakan, dan
perkebunan miliknya. Kami mempunyai ladang yang cukup luas untuk mengurusinya
satu persatu. Terkadang apabila tidak ada orang yang melihat, aku memakai
tenagaku yang kuat dan cepat untuk membantu meringankan pekerjaan ayah. Namun ketika
ayah tahu, aku langsung dimarahinya. Penuh kenangan di Smallville, hingga
akhirnya aku diterima di daily planet karena menyumbangkan beberapa artikle
yang berbau kemanusiaan pada zaman sekarang. Setelah 5 tahun lulus dari
Smallville Senior high School, aku langsung pindah ke metropolis tempat dimana
orang lalu lalang untuk bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya.
Kesan pertama
ketika pindah ke Metropolis adalah tempat ini tidak pernah haus akan keramaian
akan orang – orang. Aku menyewa apartement di daerah Millway street yang
jaraknya cukup untuk naik satu kali subway dalam waktu 13 menit. Mulanya aku
sangat bingung ketika kereta yang harusnya ku naiki selalu penuh. Tiga kali aku terlambat masuk kantor, dan tak
heran aku selalu di marahi oleh bosku, Perry White. Pak White selalu tidak
menerima alas an apa saja ketika kita berbuat yang tidak ia sukai. Namun kata
temanku, Jimmy Olsen, Pak White hanya mencari bahan untuk ia marahi. Memang sikapnya
dari dulu selalu perfeksionis, tidak boleh ada celah dari apa yang dialakukan. Termasuk
pula dalam mengolah berita. Temanku Jimmy Olsen baru masuk tiga bulan setelah
aku masuk, meskipun begitu ia cukup bagus dalam memainkan kameranya. Banyak foto
fotonya masuk dalam cover editorial Koran. Berbagai macam kasus criminal pernah
ia lewati seperti pembunuhan berantai, perampokan bank, serta terorisme dan
lain – lain. Meskipun begitu,ia hanyalah seorang rekanan dari wartawan muda
namun senior di Daily Planet yang bernama Lois Lane.
Lois Lane adalah
wartawan yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Secara fisik, ia adalah
wanita yang membuatku terpikat pada saat masuk ke daily planet. Parasnya yang
cantik, rambut hitam dan kaki yang jenjang seperti model, pasti akan terpikat
pada pesonanya. Banyak dari teman teman wartawan yang menyukainya, itu juga
termasuk diriku. Namun dibalik kecantikan yang ia pancarkan, ia juga orang yang
kritis dalam mengolah artiklenya. Banyak artiklenya yang masuk cover daily
planet sebagai topic utama. Disamping itu, Lois juga berani dalam meliput
berbagai macam berita bersama partnernya Jimmy Olesen. Menurut Jimmy, Lois
selalu memaksanya untuk melakukan hal hal yang gila untuk mencari berita. Dia juga
tidak takut dengan pengusaha ternama Lex Luthor yang pamornya sedang naik
dimata masyarakat. Lois begitu idealis mengungkap fakta fakta yang terselubung
terhadap criminal criminal dibalik layar. Tak jarang ia menapat terror di
beberapa orang yang merasa tersinggung terhadap berita yang ia berikan. Namun,
bukan Lois Lane jika ia tidak sanggup membela dirinya sendiri. Ia mengikuti
kelas beladiri dari mulai jiujitsu, karate, muang tai, boxing, sampai taekwondo.
Ayahnya sendiri tentara yang berpangkat komandan. Dari kecil memang Lois dilatih
untuk mempertahankan diri dari kondisi apapun. Meskipun begitu untuk masalah
relationship, Lois memang agak susah untuk berkomitmen. Dia beberapa kali putus
dengan orang yang tidak sanggup menjalani kehidupan seperti Lois. Ia juga
termasuk pribadi yang keras dalam menunjukkan apa yang ia mau. Sehingga terkadang
untuk berkomitmen si pasangan harus menuruti yang ia mau secara sepihak tanpa
kompromi.
Perkenalanku dengan
Lois cukup singkat. Bahkan hanya sekedar basa basi kalau dipikir pikir. Jimmy
yang mengenalkanku pada dirinya. Namun ia hanya melihat mataku dengan tajam dan
berkata ‘Salam kenal Clark Kent, Selamat datang di daily Planet yang kacau ini.’
Kamudian ia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
‘Jangan
dianggap serius clark, Sifatnya memang begitu kalau ada orang baru.’ Jimmy
mencoba mengiburku.
Bersambung............................................................................................................................