‘Totalitas
Dan Pengabdian’
‘Kisah Sir Alex
Ferguson selama 26 tahun pengabdian dan berhenti di angka 20’
‘Luar Biasa! Jenius! Visioner! Pelatih
diatas pelatih guru diatas guru’ itulah sedikitnya kata-kata yang dapat sedikit
menggambarkan seorang pelatih yang bernama Alex Ferguson dan menjadi Sir Alex
Ferguson setelah dinobatkan oleh kerajaan Inggris atas dedikasinya terhadap
olahraga, sepakbola. Beliau pensiun disaat memenangkan Trofi Liga Inggris yang
ke 20 ke 13 untuk beliau di Manchester United, pencapaian tertinggi disbanding
klub-klub Inggris lainnya, Beliau berkata bahwa ‘inilah saat yang tepat untuk
meninggalkan klub bersejarah ini, klub ini saya tinggal dalam keadaan fondasi
yang sangat bagus dan kuat’.
Tanggal 8 Mei 2013 waktu setempat seketika
Sir Alex Ferguson menyatakan pensiun sebagai manajer klub, serasa mendengar
Michael Jackson meninggal, kesedihan serasa ditinggal teman masa lalu yang
selalu menemani di tiap minggu dalam pertandingan sepakbola untuk setiap fanatik
Manchester United dan juga fanatik sepakbola yang menghargai jasa besar beliau.
Sir Alex Ferguson memang masih hidup dan menjadi duta besar Manchester United,
namun dengan kebiaasaan melihat beliau di pinggir lapangan, mengunyah permen
karet, berteriak kepada wasit, ekpresi kegembiraan dan ketegangan, semua hal
tersebut tidak akan kita lihat lagi untuk musim depan dan seterusnya.
Respek yang beliau dapatkan hampir dari
semua insane sepakbola luar dan dalam negeri, salah satunya yaitu Gianfranco
Zola yang berkata ‘Ferguson is a magician..Ferguson merupakan seorang pesulap’
yang diartikan sebagai pesulap secara konotatif yang mengubah Manchester United
menjadi klub besar dengan basis fan yang banyak dan tentunya bersejarah,
menerbitkan banyak pemain bintang dan panutan buat setiap pelatih lainnya. Sir
Alex Ferguson mengajarkan kepada dunia persepakbolaan arti kata ‘totalitas dan
pengabdian’, Manchester United = Sir Alex Ferguson, benar apa adanya hal
tersebut karena pengabdian beliau yang luar biasa yang tidak ada lagi mungkin
dan dapat ditiru pelatih-pelatih lainnya, yang mendekati hanya Arsene Wenger
(pelatih Arsenal).
Totalitas yang dia berikan dengan 38 trofi
kepada United dari piala lokal hingga Liga champion, pembentukan fondasi dengan
campuran pemain-pemain muda dan senior, dan banyak menerbitkan pemain-pemain
dunia seperti Ronaldo, Beckham, Giggs, Scholes, Ferdinand, Cantona, George Best
dan banyak lainnya. Napak tilas Sir Alex Ferguson sangatlah banyak dan mungkin
ga bisa juga dirangkum dalam satu artikel, membicarakan beliau tak cukup satu
dua lembar, bisa jadi buku yang sangat tebal.
Hal yang paling dikenal tentunya kejelian
beliau di tahun 1999 melawan Bayern Munich, klub sudah tertinggal satu gold dan
dalam hitungan menit bahkan detik! Dua orang pengganti yang dimasukkan Sir Alex
Ferguson (Solksjaer dan Sheringham) membalikkan keadaan menjadi dua satu dan
memenangkan trofi liga champion sekaligus mengukuhkan ‘treble winner’ dan juga
‘famous comeback’, kesenangan untuk Manchester United dan kesedihan untuk
Bayern Munich
Sir Alex Ferguson juga memiliki banyak
cerita kontroversial, ambil contoh ketika sedikit timnya diberi ketidak adilan
oleh wasit yang menurut beliau salah, tidak segan-segan wasit menjadi target
kemarahannya, wasit keempat akan dimakai-dimaki olehnya. Beliau juga orang yang
banyak bicara mengenai pelatih yang tidak disukainya bahkan setelah pertemuan
pun tidak hanya sebelum pertandingan sebagai perang ‘syaraf’ namun tetap respek
besar diberikan oleh semua pelatih kepadanya dari yang suka hingga tidak
menyukai beliau. Opa Alex juga terkenal dengan sifat otoriternya diruang ganti
kepada setiap pemain, pemain yang meninggalkan Old Trafford dengan membawa
dendam salah satunya adalah Carlos Tevez, dia menganggap Sir Alex terlalu
arogan dan memegang kuasa di Manchester United, namun sekali lagi inilah bukti
pengabdian beliau di United.
Sudah banyak topik-topik tren yang menjadi
ciri khas seorang Sir Alex Ferguson, beberapa diantaranya adalah “Fergie Time’
yang merujuk pada tambahan waktu diujung pertandingan, waktu dimana fanatik
Manchester United yakin dan percaya akan sebuah ‘keajaiban’ ketika tertinggal
dengan margin gol yang tipis dan entah menyamakan atau membalikkan keadaan.
Lalu ada ‘Fergie Hair Dyer Treatment’ merujuk pada jeda waktu pertandingan
dimana Ferguson teriak-teriak / marah-marah layaknya Hitler kepada SS dan anak
buahnya, bukti ketegasan dan pengangkatan mentalitas karena pemain yang
mengenakan baju berlogo Manchester United haruslah bermain dengan mentalitas juara
dan pantang menyerah, dan biasanya membawa kemenangan untuk klub setelahnya.
Nama ‘Sir Alex Ferguson Stand’ tercantum
jelas didalam Old Trafford guna menghargai jasa-jasa dan pengabdian beliau
untuk sebuah klub bernama Manchester United, juga patung lilin Sir Alex
Ferguson di luar stadium sebagai simbol seorang visioner dan pelatih besar
bertaraf dunia yang mendikasikan dirinya untuk Manchester United. Beliau
berkata kepada media mengenai pensiunnya dengan kata :
‘Keputusan
mundurnya saya ini merupakan keputusan berat dan tak bisa ditentukan dengan
mudah, ini waktu yang tepat. Penting untuk saya meninggalkan klub ini dengan
bentuk terkuat yang ada dan saya percaya telah melakukannya. Untuk kedepannya
saya mengambil peranan penting sebagai direktur dan duta besar klub. Dan kepada
fan saya mengucapkan terima kasih, dukungan yang kalian beri selama
bertahun-tahun sangatlah luar biasa, ini merupakan suatu kehormatan untuk
memiliki kesempatan bekerja kepada klub kalian, dan memiliki harta karun yang
berharga di Manchester United – Sir Alex Ferguson’.
Kesiapan hati kecil beliau yang menyebabkan
pensiun sebagai manajer Man United, banyak mantan-mantan pemain yang bangga
pernah dilatih oleh beliau hingga beberapa dari mereka bahkan sudah menjadi
pelatih, mereka menganggap Sir Alex Ferguson sebagai figur, sosok seorang ayah,
beberapa pemain ini adalah Ronaldo, Ince, Yorke, Beckham dan lainnya. Marcelo
Lippi berkata bahwa model permainan Manchester United menginspirasinya dan juga
Juventus saat itu, respek dari seluruh dan kawan ditujukan kepada beliau.
Pergantian pelatih memang hal yang biasa
namun kita berbicara mengenai Sir Alex Ferguson, bukan sembarang orang dengan
pengabdian dan totalitasnya, pertanyaan setelah pertanyaan akan muncul..
‘dapatkah United mempertahankan apa yang sudah diraih selama ini?’ ‘Terjagakah
mentalitas United?’ ‘Siapa pelatih yang mengantikan seorang legenda?’, wajar
pertanyaan-pertanyaan timbul, tapi United tetaplah United, siapapun pelatihnya
nanti mereka akan tetap menunjukkan mentalitasnya dan mungkin hanya organisasi
permainan yang berbeda.
Keyakinan ini terjaga karena dahulu United
juga pernah mengalami ‘kejatuhan’ pasca tragedy Munich yang menewaskan hampir
seluruh pemain inti, namun United tetaplah United, mereka bangkit dan membawa
United ke final piala FA meskipun kalah tapi kebangkitan mereka itulah yang
disaksikan seluruh dunia, ‘Manchester United tidak pernah menyerah’ headline
surat kabar waktu itu.
Inilah
tulisan-tulisan singkat mengenai pengabdian dan totalitas Sir Alex Ferguson
kepada Manchester United yang sangatlah jarang ditemui di dunia sepakbola
modern ini, dan buat seluruh fan Man United ambil hikmah dan positif pasca
kemunduran Sir Alex Ferguson yakni penyegaran, modul baru, ide dan sistem
permainan yang akan ditawarkan pelatih baru nantinya, Terima Kasih Sir Alex
untuk semua yang telah kau berikan untuk Manchester United dan dunia
persepakbolaan, engkau adalah sosok seorang visioner, bapak dan contoh bagi
setiap insan sepakbola dan mengajarkan makna kata totalitas dan pengabdian.